Kamis, 10 Mei 2012

Tujuan Pendidikan


Pada dasarnya pendidikan adalah laksana eksperimen yang tidak pernah selesai sampai kapan pun, sepanjang ada kehidupan manusia di dunia ini. Dikatakan demikian, karena pendidikan merupakan bagian dari kebudayaan dan peradaban manusia yang terus berkembang. Hal ini sejalan dengan pembawaan manusia yang memiliki potensi keimanan dan ketakwaannya kepada Tuhan-nya, potensi untuk berbuat kebaikan, dan potensi kreatif dan inovatif dalam segala bidang kehidupannya.
Tujuan pendidikan merupakan faktor utama yang harus diperhatikan, disadari dan dijadikan sasaran oleh setiap pendidik yang melaksanakan kegiatan pendidikan.
Oleh karena itu setiap kegiatan atau tindakan pendidikan yang dilakukakn pendidik harus sengaja diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan. Dan tujuan-tujuan pendidikan yang dicapai tersebut jangkauan jauhnya dimaksudkan untuk mencapai tujuan akhir pendidikan.
Dalam hal ini penulis akan memaparkan berbagai macam tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan sejati tidaklah hanya mengisi ruang-ruang imajinasi dan intelektual anak didik, mengasah kepekaan sosialnya, ataupun memperkenalkan mereka pada aspek kecerdasan emosi, tapi lebih kepada mempersiapkan mereka untuk mengenal Tuhan dan sesama untuk pencapaian yang lebih besar bagi kekekalan.

A.      Pengertian Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan adalah salah satu unsur pendidikan berupa rumusan tentang apa yang harus dicapai oleh anak didik, yang berfungsi sebagai pemberi arah bagi semua kegiatan pendidikan. Tujuan pendidikan menjadi pedoman dalam rangka menetapkan isi, cara-cara mendidik atau metode pendidikan, alat pendidikan, dan menjadi tolak ukur dalam rangka melakukan evaluasi terhadap hasil pendidikan.
Tujuan pendidikan dirumuskan berdasarkan pemahaman tentang manusia serta nilai-nilai atau sesuatu yang diyakini berharga untuk dicapai oleh manusia sebagai tujuan hidupnya. Jadi terdapat hubungan antara tujuan pendidikan dengan konsep tentang manusia dan tujuan hidup manusia.
Menurut M. J. Langeveld (1980), tujuan umum pendidikan adalah kedewasaan atau manusia dewasa, yaitu manusia yang mampu menentukan dirinya sendiri secara mandiri atas tanggung jawab sendiri. Sejalan dengan pendapat itu, Hongveld mengartikan kedewasaan sebagai manusia yang dapat melaksanakan tugas hidupnya secara mandiri. Dengan kata lain, tujuan umum pendidikan itu adalah agar “manusia” (anak didik) mampu menjadi manusia, artinya mampu mewujudkan diri sesuai kodrat dan martabat kemanusiaannya, atau mampu melaksanakan berbagai peranan sesuai dengan statusnya dan nilai-nilai yang diakui. Sehubungan dengan itu rumusan tujuan umum pendidikan hendaknya meliputi dimensi wujud manusia (sebagai kesatuan badani-rohani) serta dimensi-dimensi kehidupannya. Hal ini mengimplikasikan bahwa pengembangan manusia melalui pendidikan diharapkan meliputi potensi: keimanan dan ketakwaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa, potensi untuk mampu berbuat baik, potensi untuk hidup sehat, potensi cipta, potensi rasa, potensi karsa, dan potensi karyanya. Semua potensi itu harus dikembangkan dalam konteks pengembangan dimensi kehidupan keberagaman, individulitas, sosialitas, moralitas, dan keberbudayaan. Adapun pengembangan semua potensi itu hendaknya dilaksanakan secara menyeluruh dan terintegrasi.
Pemahaman tentang manusia dan nilai-nilai atau sesuatu yang dianggap berharga untuk dicapai oleh manusia pada dasarnya bersumber dari pandangan hidup. Karena itu adanya perbedaan pandangan hidup yang dianut oleh seseorang, oleh suatu masyarakat atau bangsa yang lainnya akan mengakibatkan adanya perbedaan tentang rumusan isi tujuan pendidikan istilah “menjadi manusia” atau “kedewasaan” sebagai tujuan umum pendidikan mungkin berbeda makna atau isinya pada suatu masyarakat tertentu dengan masyarakat lainnya.

B.       Pengertian Tujuan Pendidikan
Menurut M. J. Langeveld (1980) terdapat enam jenis tujuan pendidikan yaitu:
1.        Tujuan umum (tujuan lengkap, tujuan total atau tujuan akhir)
2.        Tujuan khusus (pengkhususan dari tujuan umum)
3.        Tujuan insidental
4.        Tujuan sementara
5.        Tujuan tak lengkap
6.        Tujuan intermedier
Tujuan umum merupakan tujuan yang menjadi sumber bagi tujuan lainnya. Semua manusia ingin mrncapai tujuan tersebut yakni manusia dewasa/kedewasaan atau menjadi manusia. Tujuan umum ini dapat dijabarkan menjadi tujuan-tujuan khusus.
Tujuan khusus merupakan penjabaran/pengkhususan dari tujuan umum yang dirumuskan berdasarkan asas atau prinsip sebagai berikut:
·           Usia, bakat dan jenis kelamin anak didik
·           Kemungkinsn-kemungkinan yang ada pada keluarga dan alam sekitar anak didik
·           Tujuan kemasyarakatan bagi si anak
·           Kesanggupan-kesanggupan yang ada pada pendidik
·           Tugas lembaga pendidikan
·           Tugas bangsa dan manusia pada waktu dan tempat tertentu

Sehubungan dengan prinsip atau asas pengkhususan tujuan umum di atas, maka tujuan umum pendidikan yanng sama bagi semua orang (yaitu kedewasaan) akan mempunyai isi tujuan khusus yang bervariasi. Contoh: tujuan pendidikan nasional suatu bangsa berbeda dengan tujuan pendidikan nasional bangsa lainnya. Tujuan pendidikan bagi anak laki-laki mungkin berbeda dengan tujuan pendidikan bagi anak perempuan. Tujuan Pendidikan Sekolah Dasar akan berbeda dengan tujuan pendidikan Taman Kanak-kanak, dan sebagainya.
Tujuan Insidental adlah tujuan uang menyangkut suatuperistiwa khusus. Tujuan insidental jauh hubungannya dengan tujuan umum, namun demikian tujuan insidentl tetap terarah juga pada pencapaian tujuan umum. Contoh: sebelum jam belajar dimulai, anak-anak bermain di pintu gerbang SD. Dengan tujuan agar anak-anak tersebut tidak menghalangi atau tidak menganggu orang lain yang akan melewati pintu gerbang, maka guru melarang anak-anak tersebut bermain di pintu gerbang. Agar tidak masuk angin, anak-anak dilarang berlama-lama bermain air dan sebagainya.
Tujuan Tentatif atau tujuan sementara ialah tujuan yang terdapat pada langkah-langkah pencapaian tujuan umum, atau yang merupakan “tempat berhenti dalam perjalanan” dalam rangka mencapai tujuan umum. Tujuan ini dicapai untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi. Setiap tujuan sementara ini erat hubungannya dengan masa perkembangan anak. Contoh : dalam rangka mencapai tujuan umum pendidikan, maka akan terdapat tujuan sementara seperti : agar anak dapat berjalan; agar anak dapat berbicara; agar anak biasa hidup bersih; anak dibiasakan tidak kencing di tempat tidur agar ia tahu tentang kebersihan, dll.
Tujuan Tak Lengkap adalah tujuan pendidikan yang hanya berkenaan dengan salah satu aspek kemampuan atau dimensi kehidupan. Tujuan ini erat hubungannya dengan suatu aspek kepribadian tertentu seperti halnya tujuan pendidikan agama, tujuan pendidikan moral, tujuan pendidikan jasmani, tujuan pendidikan intelektual dan sebagainya. Contoh : agar anak mampu menyebutkan urutan bilangan; agar anak hapal membaca do’a sebelum makan; tujuan mata pelajaran matematika; tujuan mata pelajaran bahasa Inggris, dll. Masing-masing contoh tujuan tersebut tidaklah lengkap dalam arti tidak mencakup keseluruhan aspek yang harus dikembangkan pada diri anak didik.
Tujuan Intermedier adalah tujuan pendidikan yang apabila dapat dicapai menjadi alat atau menjadi jembatan untuk mencapai tujuan pendidikan lainnya yang lebih luas atau lebih tinggi tingkatannya. Tujuan ini merupakan alat untuk mencapai tujuan yang lebih lanjut, seperti halnya menguasai bahasa inggris agar dapat mempelajari berbagai ilmu pengetahuan yang ditulis dalam bahasa inggris. Contoh : Di TK, anak diharapkan mampu menyebutkan urutan bilangan dan menuliskan angka. Tujuan ini akan menjadi perantara untuk kemudian anak mampu berhitung. Belajar berhitung biasanya dilakukan di SD. Tujuan ini juga akan menjadi perantara agar anak nantinya diharapkan mampu memecahkan berbagai permasalahan yang berkenaan dengan perhitungan atau matematika, statistika dsb yang pada akhirnya diharapkan secara mandiri anak mampu memecahkan persoalan perhitungan dalam kehidupannya. Demikian halnya, tujuan pendidikan Taman Kanak-Kanak merupakan perantara/jembatan bagi tujuan pendidikan Sekolah Dasar, tujuan pendidikan Sekolah Dasar merupakan perantara bagi tujuan pendidikan Sekolah Menengah Pertama dan seterusnya.

C.      Hierarki Tujuan Pendidikan
Pengkhususan dari tujuan umum pendidikan antara lain akan menghasilkan rumusan tujuan pendidikan nasional. Tujuan pendidikan nasional ini bersifat ideal dan belum operasional. Dalam upaya pencapaiannya, tujuan pendidikan nasional perlu dijabarkan lebih lamjut sehingga bersifat operasionalsan mudah di evaluasi. Penjabaran tujuan pendidikan nasional menghasilkan hierarkhi tujuan pendidikan sbb:
1.        Tujuan pendidikan nasional;
2.        Tujuan institusional;
3.        Tujuan kurikuler;
4.        Tujuan instruksional atau pengajaran, yang meliputi:
a.         Tujuan pengajaran umum, dan
b.        Tujuan pengajaran khusus.
Dewasa ini, setelah diberlakukannya UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, istilah dan makna tujuan instruksional atau tujuan pengajaran lebih tepat diubah menjadi tujuan pembelajaran. Karena itu, sebagaimana tujuan pengajaran,tujuan pembelajaran meliputi:
a.         Tujuan Pembelajaran Umum, dan
b.        Tujuan Pembelajaran Khusus.
Tujuan pendidikan nasional. Tujuan pendidikan nasional yaitu tujuan sari keseluruhan satuan, jenis, dan kegiatan pendidikan, baik pada jalur pendidikan formal , informal dan nonformal dalam konteks pembangunan nasional. Tujuan Pendidikan Nasional Indonesia adalah untuk “berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mansiri dan menjadi warga hegara yang demokratis serta bertanggungjawab” (Bab II Pasal 3 UU RI No.20 Tahun 2003). Pentingnya karakter positif pendidikan. Fungsi dan tujuan pendidikan nasional tertuang dalam Undang-Undang Nomor : 20 Tahun 2003 Bab II Pasal 3 yaitu : “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, sehat, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Tujuan Institusional. Tujuan Institusional yaitu tujuan yang seharusnya dicapai oleh lembaga pendidikan tertentu. Contoh: tujuan pendidikan Sekolah Dasar adalah “ untuk memberikan bekal kemampuan dasar kepada siswa dalam mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warganegara, serta mempersiapkan siswa untuk melanjutkan ke Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama” ( Pasal 2 Kep. Mendikbud No.0487/U/1992). Contoh lainnya adalah tujuan pendidikan SMU, tujuan kursus,dsb. Semua tujuan institusional yang ada dalam system pendidikan nasional, baik yang ada di jalur pendidikan formal maupun jalur pendidikan nonformal dijabarkan dan diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. tujuan institusional adalah perumusan secara umum pola perilaku dan pola kemampuannya yang harus dimiliki oleh setiap lembaga pendidikan yang berbeda-beda sesuai dengan fungsi dan tugas yang harus dipikul oleh setiap lembaga dalam rangka menghasilkan lulusan dengan kemampuan dan keterampilan tertentu sebagai subsistem pendidikan nasional, tujuan institusional untuk setiap lembaga pendidikan tidak dapat terlepas dari tujuan pendidikan nasional. Hal ini disebabkan setiap lembaga pendidikan ingin menghasilkan lulusan yang akan menunjang tinggi martabat bangsa dan negaranya, yang bertekad untuk mempertahankan falsafah pancasila sebagai dasar negara, di samping kemampuan dan keterampilan tertentu sesuai dengan kekhususan setiap lembaga. Dengan demikian, perumusan tujuan institusional dipengaruhi oleh tiga hal: (a) tujuan pendidikan nasional (b) kekhususan setiap lembaga; dan (c) tingkat usia peserta didik tujuan institusional itu dicapai melalui pemberian berbagai pengalaman belajar kepada peserta didiknya
Tujuan Kurikuler. Tujuan Kurikuler yaitu tujuan suatu bidang studi atau mata pelajaran. Misalnya tujuan mata pelajaran IPA, IPA, matematika, bahasa Indonesia, dan sebagainya. Semua tujuan kurikuler yang ada pada suatu lembaga pendidikan diarahkan untuk mencapai tujuan institusional yang bersangkutan.
Tujuan Pembelajaran Umum (TPU). Tujuan Pembelajaran Umum yaitu tujuan suatu pokok bahasan dari suatu bidang studi atau mata pelajaran yang diajarkan di suatu lembaga pendidikan seperti di Sekolah Dasar, maupun disekolah lanjutan (SMP,SMU,SMK). Tujuan ini masih bersifat umum yang perlu dijabarkan menjadi sejumlah Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK) yang bersifat spesifik, operasional, dan terukur yang harus dicapai pada setiap satuan/pertemuan pembelajaran.


D.      Taksonomi Tujuan Pendidikan
Taksonomi tujuan pendidikan Benjamin Bloom dkk. telah mengembangkan klasifikasi atau taksonmi tujuan-tujuan pendidikan. Keseluruhan tujuan pendidikan dibagi menjadi tiga kawasan (domain) , yaitu kawasan kognitif, afektif, dan psikomotor.
Kawasan kognitif mencakup kemampuan-kemampuan intelektual mengenai lingkungan. Kawasan afektif mencakup kemampuan-kemampuan emosional dalam mengalami dan menghayati sesuatu hal. Sedangkan kawasan psikomotor mencakup kemampuan-kemampuan motorik menggiatkan dan mengkoordinasi gerakan.
Kawasan kognitif terdiri dari ats enam macam kemampuan, yang secara hierarkhis dari yang paling sederhana sampai kepada yang paling kompleks adalah sebagai berikut :
1.        Pengetahuan, yaitu kemampuan mengingat kembali hal-hal yang telah dipelajari.
2.        Pemahaman, yaitu kemampuan menangkap makna atau arti sesuatu hal.
3.        Penerapan,yaitu kemampuan mempergunakan hal-hal yang telah dipelajari untuk menghadapi situasi-situasi baru dan nyata.
4.        Analisis, yaitu kemampuan menjabarkan sesuatu menjadi bagian-bagian sehingga stuktur organisasinya dapat dipahami.
5.        Sintesis, yaitu kemampuan memadukan bagian-bagian menjadi satu keseluruhan yang lebih berarti.
6.        Penilaian, yaitu kemampuan memberikan harga sesuatu hal berdasarkan kriteria intern atau kelompok atau kriteria ekstern yang ditetapkan terlebih dahulu.
Kawasan afektif mencakup lima macam kemampuan emo-sional yang disusun secara hierarkhis dari yang paling tidak mengikat diri pribadinya, sebagai berikut :
1.        Kesadaran, yaitu kemampuan untuk ingin memperlihatkan sesuatu hal.
2.        Partisipasi, yaitu kemampuan untuk turut serta terlibat dalam sesuatu hal.
3.        Penghayatan nilai, yaitu kemampuan untuk menerima nilai dan terikat kepadanya.
4.        Pengorganisasian nilai, yaitu kemampuan untuk memiliki sistem nila pada dirinya.
5.        Karakterisasi diri, yaitu kemampuan untuk memiliki pola hidup(life style), dimana sistem nilai yang tebentuk dalam dirinnya mampu mengawasi tingkah lakunya.

Kawasan psikomotorik belum sempat dikembangkan oleh B.Bloom dkk, kemudian antara lain dikembangkan oleh Kibler, Baher, dan Mills (1972 dan Simmon (1972). Kawasan psikomotorik yang dikembangkan oleh Harrow :
1.        Gerakan refleks, yaitu kemampuan tindakan-tindakan yang terjadi secara tak sengaja dalam merespon sesuatu perangsang.
2.        Gerakan dasar, yaitu kemampuan melakukan pola-pola gerakan yang bersifat pembawaan dan terbentuk dari kombinasi gerakan-gerakan refleks.
3.        Kemampuan perseptual, yaitu kemampuan menterjemahkan perangsang yang diterima melaui alat dria menjadi gerakan-gerakanyang tepat.
4.        Kemampuan jasmani, yaitu kemampuan dan gerakan-gerakan dasar yang merupakan inti untuk memperkembangkan gerakan-gerakan yang terlatih.
5.        Gerakan-gerakan terlatih, yaitu gerakan-gerakan yang canggih dengan tingkat efisiensi tertentu.
6.        Komunikasi nondiskursif, yaitu kemampuan komunikasi dengan melalui isyarat gerakan badan. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa hasil pendidikan adalah orang yang telah mengalami peningkatan kulitas kemampuan kognnitif , afektif, dan psikomotornya (Redja Mudyharjo,1991).

Tujuan pendidikan adalah salah satu unsur pendidikan berupa rumusan tentang apa yang harus dicapai oleh anak didik, yang berfungsi sebagai pemberi arah bagi semua kegiatan pendidikan. Dengan adanya jenis-jenis tujuan pendidikan sebagaimana telah dipaparkan, maka seorang pendidik seharusnya memberikan garis yang jelas tentang tujuan yang akan dicapainya dalam suatu ketika, atau dalam satu tahapan tertentu sehingga tujuan-tujuan yang ada sebelum mencapai tujuan umum merupakan pendorong atau pembantu untuk sampai kepada tujuan umum yaitu kedewasaan rokhani dan jasmani.
Diharapkan dengan tujuan pendidikan ini akan menentukan kearah mana anak didik itu akan dibawa.




DAFTAR PUSTAKA

Sumber Buku :
Syaripudin, Tatang. (2009), Pedagogik Teoritis Sistematis, Percikan Ilmu, Bandung.

Sumber Internet :
Ahira, Anne. (2010). Tujuan Pendidikan. [Online]. Tersedia di: http://www.anneahira.com/artikel-pendidikan/tujuan-pendidikan.htm
Aamprogresif. (2011). Tujuan Institusional. [Online]. Tersedia di: id.shvoong.com/social-sciences/education/2107661-tujuan-institusional/#ixzz1pHlc8mwO
Fadly. (2011). Tujuan Pendidikan. [Online]. Tersedia di: http://makalah-arsipku.blogspot.com/2011/01/tujuan-pendidikan.html
Husein, Nurhnifah. (2010). Tujuan Pendidikan. [Online]. Tersedia di: http://www.scribd.com/doc/43831202/TUJUAN-PENDIDIKAN

1 komentar: